Header Ads

Para Pemburu 'Hantu' Gumpalan Minyak Pertamina di Karawang

Karawang, CNN Indonesia - Di atas kapal penangkap ikan di Perairan Karawang, Jawa Barat, lima orang sibuk mengambil limbah minyak mentah yang bocor dari anak perusahaan PT Pertamina (Persero). Mereka mengenakan seragam putih, dilengkapi pelampung oranye, helm hingga sarung tangan.

Mereka adalah nelayan yang sekarang bekerja untuk menangkap limbah minyak mentah.

Minyak mentah kental sebesar kerikil. Permukaan laut terlihat berminyak. Bau kotoran menyengat.

Waca (43), salah satu warga setempat berlayar ke lokasi selama 30 menit. Hari itu, Rabu (21/8), dia tidak bertugas mengumpulkan sampah.

Di lokasi di mana limbah dikumpulkan, Waca menunjukkan betapa sulitnya bagi nelayan untuk membersihkan lautan minyak mentah yang mencemari perairan Karawang.

"Lihat, mereka mengalami kesulitan, masalahnya adalah limbah itu menyebar. Tergantung pada arus dan angin, jika berjalan lancar 2 hingga 3 jam, jika tidak butuh 4 hingga 5 jam," kata Waca, yang mengantarkan CNNIndonesia .com ke lokasi.

Menurutnya, mereka lebih sulit mengambil sampah di siang hari. Di pagi hari, gumpalan sampah lebih mudah diambil karena belum meleleh di bawah sinar matahari. Karena itu mereka biasanya melaut lebih awal, sejak pukul 05.30 WIB.

Mereka menggunakan jaring yang menempel pada batang bambu untuk membuang sampah. Setelah itu, segumpal minyak dimasukkan ke dalam karung putih yang diletakkan di ember. Wadah adalah ukuran berat limbah. Setelah mencocokkan beratnya, karung terikat erat dan dipindahkan. Mereka kemudian memasukkan karung kosong itu kembali dan mengisinya lagi.

Waca menjelaskan setiap hari dalam satu kapal yang ditargetkan bisa mengumpulkan 80 karung. Bobotnya 15 hingga 20 kilogram per kantong.

Waca mengatakan bahwa mengambil limbah dengan cara ini cukup berisiko bagi kesehatan kulit.

"Semakin panas, matahari akan meleleh. Jadi semakin panas di kulit," katanya.

Lebih lanjut, Waca mengatakan satu kapal diberi upah Rp1,5 juta sekali jalan. Dari jumlah itu, setiap orang mendapat gaji bersih Rp. 200 ribu. Sisanya, Rp500 ribu digunakan untuk biaya operasional kapal seperti bahan bakar dan kebutuhan lainnya.

Menurutnya, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan nelayan selain mencari nafkah dari membuang sampah.

Dua kapal yang dipenuhi pemulung juga tampak kesulitan mengumpulkan gumpalan minyak yang kian menyebar.

Berdasarkan catatan dari Kantor Lingkungan dan Kebersihan Karawang, dalam sehari ada sekitar 2.000 karung limbah minyak mentah yang dikumpulkan.

Wakil Presiden Hubungan PHE ONWJ Ifki Sukarya mengatakan insiden kebocoran minyak mentah dimulai ketika ada pengeboran sumur reaktivasi YYA-1 pada hari Jumat, 12 Juli 2019.

Tidak ada komentar