PULUHAN ANAK-ANAK MAHASISWA DIDUGA SILUMAN MUNCUL DI MEDAN SMA NEGERI 8
MEDAN : Tidak salah jika dikatakan bahwa pendidikan menjadi lahan basah untuk mencari untung. Tidak hanya dalam hal dugaan korupsi, berbagai pihak sebenarnya dapat digunakan oleh sejumlah orang untuk mengentalkan kantong pribadi mereka.
Cara paling mudah untuk bermain adalah dalam hal penerimaan siswa yang sekarang dikenal sebagai Penerimaan Siswa Baru (PPDB).
Kecanggihan sistem milik pemerintah yang mulai menerapkan sistem online PPDB, telah terbukti tidak dapat membendung perilaku elemen-elemen tertentu untuk terus bermain kotor untuk menghasilkan uang.
Aroma itu juga mulai menyengat tajam di SMA Negeri 8 Medan, yang terletak di Jl. Sampali, Kel. Pandau Hulu II, Kec. Area Medan, menyusul pembengkakan jumlah siswa pada Tahun Akademik 2019/2020.
Menurut data yang dipublikasikan secara online, jumlah siswa yang lulus adalah 265 orang. Namun faktanya, sekarang ada 285 siswa yang ambil bagian dalam penelitian ini.
Selain itu, dari 265 orang yang lulus PPDB, 7 di antaranya menyebutkan sampai proses pembelajaran dimulai, tidak pernah mendaftar ulang dan tidak pernah terlihat muncul. Ironisnya, kuota untuk siswa diisi dengan nama siswa yang berbeda.
Terlepas dari semua itu, informasi yang dikumpulkan oleh Onlinesumut, ada 21 lebih banyak siswa Kelas X (kelas 1) di SMA Negeri 8 yang baru saja memulai kegiatan belajar mereka sekitar sebulan yang lalu, disebut-sebut sebagai siswa sembunyi-sembunyi alias siswa gelap yang tidak pernah terdaftar di sekolah. pengumuman resmi PPDB Online dirilis oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.
Berbagai mode dijalankan. Diantaranya dengan cara menyebar atau semua siswa dimasukkan ke setiap kelas untuk memenuhi jumlah 36 orang.
Kemudian, sekolah juga sengaja masih melakukan sistem absensi manual sehingga Data Pendidikan Dasar (Dapodik) yang seharusnya sudah masuk ke Dinas Pendidikan Sumatera Utara, belum dilakukan.
Tentu tidak gratis. Memperkuat informasi bahwa setiap bangku dihargai hingga jutaan rupiah.
Terkait hal ini, baru-baru ini Kepala SMA Negeri 8 Medan Jongor Panjaitan ketika bertemu, membantah semuanya. "Itu tidak benar bahwa ada siswa sembunyi-sembunyi," katanya ketus saat mencoba menawarkan negosiasi sehingga berita itu tidak dipublikasikan.
Cara paling mudah untuk bermain adalah dalam hal penerimaan siswa yang sekarang dikenal sebagai Penerimaan Siswa Baru (PPDB).
Kecanggihan sistem milik pemerintah yang mulai menerapkan sistem online PPDB, telah terbukti tidak dapat membendung perilaku elemen-elemen tertentu untuk terus bermain kotor untuk menghasilkan uang.
Aroma itu juga mulai menyengat tajam di SMA Negeri 8 Medan, yang terletak di Jl. Sampali, Kel. Pandau Hulu II, Kec. Area Medan, menyusul pembengkakan jumlah siswa pada Tahun Akademik 2019/2020.
Menurut data yang dipublikasikan secara online, jumlah siswa yang lulus adalah 265 orang. Namun faktanya, sekarang ada 285 siswa yang ambil bagian dalam penelitian ini.
Selain itu, dari 265 orang yang lulus PPDB, 7 di antaranya menyebutkan sampai proses pembelajaran dimulai, tidak pernah mendaftar ulang dan tidak pernah terlihat muncul. Ironisnya, kuota untuk siswa diisi dengan nama siswa yang berbeda.
Terlepas dari semua itu, informasi yang dikumpulkan oleh Onlinesumut, ada 21 lebih banyak siswa Kelas X (kelas 1) di SMA Negeri 8 yang baru saja memulai kegiatan belajar mereka sekitar sebulan yang lalu, disebut-sebut sebagai siswa sembunyi-sembunyi alias siswa gelap yang tidak pernah terdaftar di sekolah. pengumuman resmi PPDB Online dirilis oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.
Berbagai mode dijalankan. Diantaranya dengan cara menyebar atau semua siswa dimasukkan ke setiap kelas untuk memenuhi jumlah 36 orang.
Kemudian, sekolah juga sengaja masih melakukan sistem absensi manual sehingga Data Pendidikan Dasar (Dapodik) yang seharusnya sudah masuk ke Dinas Pendidikan Sumatera Utara, belum dilakukan.
Tentu tidak gratis. Memperkuat informasi bahwa setiap bangku dihargai hingga jutaan rupiah.
Terkait hal ini, baru-baru ini Kepala SMA Negeri 8 Medan Jongor Panjaitan ketika bertemu, membantah semuanya. "Itu tidak benar bahwa ada siswa sembunyi-sembunyi," katanya ketus saat mencoba menawarkan negosiasi sehingga berita itu tidak dipublikasikan.




Post a Comment